MANAJEMEN LABA:MENGAPABANYAKMENGUNDANG KONTROVERSI?

ISSN :1907-6304
MANAJEMEN LABA:MENGAPABANYAKMENGUNDANG
KONTROVERSI?
Earning Management: Why have been Inviting a lot of Controversy?
Jaryanto *)
Abstract
Earnings management have been inviting a lot of controversy.One sidet earnings management
represent the action which it do not trespass theexisting regulation and go into effect the public but
on the other side earnings management viewed as a form of accounting manipulation. Earnings
Management will make the reliability from earning become redacted. This matter is caused by in
earnings management there are deflection of measurement income (boosted up or degraded) and
report the profit which did not representational faithfulness such as those which ought to be reported.
Earnings Management occurs when managers use judgment in financial reporting and in structuring
transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying
economic performance of the companyt or to influence contractual outcomes that depend on
reported accounting number. Management practice earnings management because of following
factors: The of Bonus of Plan Hypothesis, The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant
Hypothesis) The Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis).
Keyword; Earning Management, performance, financial reporting
Abstrak
Managemen laba telah mengundang banyak kontroversi. Disatu sisi manajemen laba
merupakan tindakan yang tidak menyalahi peraturan yang ada dan berlaku umum tetapi disisi lain
manajemen laba dipandang sebagai bentuk pemanipulasian akuntansi. Dengan adanya praktek
manajemen laba reliabilitas dari laba akan tereduksi. Hal inidisebabkan karena didalam manajemen
laba terdapat pembiasan pengukuran income (dinaikkan atau diturunkan) dan melaporkan laba
yang tidak representationally faithfulness seperti yang seharusnya dilaporkan. Managemen laba
terjadi ketika manager menggunakan judgment pada pelaporan keuangan dan transaksi yang
terjadi untuk merubah laporan keuangan baik untuk menyesatkan beberapa stakeholder tentang
kinerja perusahaan atau untuk mempengaruhi contractual outcomes yang tergantung pada angkaangka akuntansi. Praktik managemen laba dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut: The
of Bonus of Plan Hypothesis, The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis)
The Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis).
K.ata kunei; manajemen laba, kinerja, pelaporan keuangan
"') Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 - 34
1. Latar Belakang
Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan
keuangan eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan
dirinya sendiri atau perusahaannya sendiri. Peluang untuk mendistorsi laba tersebut timbul karena
metode aku.ntansi memberikan peluang bagi manajemen untuk mencatat suatu fakta tertentu dengan
cara yang berbeda dan peluang bagi manajemen untuk melibatkan subyektifitas dalam menentukan
estimasi. Praktek manajemen laba cukup banyak mengundang kontroversi. Disatu sisi manajemen
laba merupakan tindakan yang tidak menyalahi peraturan yang ada dan berlaku umum tetapi disisi
lain manajemen laba dipandang sebagai bentuk pemanipulasian aku.ntansi. Dengan adanya praktek
manajemen laba reliabilitas dari laba akan tereduksi. Hal ini disebabkan karena didalam manajemen
laba terdapat pembiasan pengukuran income (dinaikkan atau diturunkan) dan melaporkan laba
yang tidak representationally faithfulness seperti yang seharusnya dilaporkan.
Standar Aku.ntansi Keuangan memberikan kelonggaran dalam memilih metode aku.ntansi
yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Kelonggaran dalam metode ini dapat
dimanfaatkan untuk mengbasilkan nilai laba yang berbeda-beda disetiap perusahaan. Praktik seperti
ini dapat memberkan dampak terhadap kualitas laba yang dilaporkan. Dewasa inimanajemen laba
diterapkan dalam berbagai macam bentuk dan untuk berbagai macam tujuan baik untuk tujuan
pribadi manajer maupun untuk tujuan perusahaan. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa
manajemen laba banyak mengundang kontroversi terutama kaitannya dengan praktik aku.ntansi?
2. Telaah Teori
2. 1. Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan manipulasi laba yang dilakukan pihak manajemen untuk
mencapai tujuan tertentu. Manipulasi dilakukan agar laba nampak sebagaimana yang diharapkan.
Berikut ini beberapa definisi dari manajemen laba:
Schipper (1989,92): "...a purposeful intervention in the external financial reporting
process, with the intent of obtaining some private gain (as opposed to, say, merely
facilitating the neutral operation of the process) .... "(emphasis added).
Healy and Wahlen (1999,368}: "Earnings management occurs when managers use
judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports
to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of
the company, or to irifluence contractual outcomes that depend on reported accounting
numbers" (emphasis added}.
Scott (1997) dalam Julia Halim dkk (2005) mendefinisikan manajemen laba sebagai berikut;
"Given that managers can choose accounting policies from a set (for example, GAAP), it is
natural to expect that they will choose policies so as to maximize their own utility and/or the
market value of the firm". Dari defmisi tersebut manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan
aku.ntansi oleh manajer dari standar aku.ntansi yang ada dan secara alamiah dapat memaksimumkan
utilitas mereka dan atau nilaipasar perusahaan. Scott (1997) dalamJulia Halimdkk (2005) membagi
cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku
oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi,
kontak utang, dan political costs (Opportunistic Earnings Management). Kedua, dengan
MANAlEMEN LABA:MENGAPA BANYAK MENGUNDANG KONTROVERSI?
Jiltyllnto
25
memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings
Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri
mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan
pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.
Selanjutnya Healy & Wahlen dalam Rashidah & Fairuzanah (2006) menyatakan bahwa
Earnings management occurs:
... when managers use judgement in financial reporting and in structuring transactions
to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying
economic performance of the company, or to influence contractual outcomes that
depend on reported accounting numbers (Healy and Wahlen, 1999, p. 6).
2.2.Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba
Tiga hipotesis PossitiveAccounting Theory yang dapat dijadikan dasar pemahaman tindakan
manajemen laba yang dirumuskan oleh Watts and Zimmerman (1986) dalam Julia Halim dkk
(2005) adalah :
a. The Bonus Plan Hypothesis
Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, manajer perusahaan akan lebih
memilih metode akuntansi yang dapat menggeser laba dari masa depan ke masa kini sehingga
dapat menaikkan laba saat ini.Hal ini dikarenakan manajer lebih menyukai pemberian upah
yang lebih tinggi untuk masa kini.Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat
laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di
bawah bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer sedangkanjika laba berada di atas cap,
manajer tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika laba bersih berada di bawahbogey, manajer
cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode
berikutnya, demikian pula jika laba berada di atas cap. Jadi hanya jika laba bersih berada di
antara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba bersih perusahaan.
b. The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis)
Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity tinggi, manajer perusahaan cenderung
menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan
dengan rasio debt to equity yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana
tambahan dari pihak kreditor bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang.
c. The Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis)
Pada perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi, manajer akan lebih memilih metode
akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa
mendatang sehingga dapat memperkecillaba yang dilaporkan.Biaya politik muncul dikarenakan
profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 - 34
Scott (2000:302) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba:
a. Bonus Purposes
Manajer yang memiliki infonnasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistic
untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini. Manajer yang bekerja
di perusahaan dengan rencana bonus akan berusaha mengatur laba yang dilaporkan agar
dapat memaksimalkan bonus yang akan diterimanya.
b. Political Motivations
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik:.
Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang
mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat. Perusahaan-perusahaan
besar dan industri strategis cenderung menurunkan laba untuk mengurangi visibilitasnya
khususnya selama periode kemakmuran tinggi. Tindakan ini dilakukan untuk memperoleh
kemudahan dan fasilitas dari pemerintah misalnya subsidi.
c. Taxation Motivations
Perpajakan merupakan salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengurangi laba yang
dilaporkan. Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.
Dengan mengurangi laba yang dilaporkan maka perusahaan dapat meminimalkan besamya
pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.
d. Pergantian CEO
CEO yang akan habis masa penugasannya atau pensiun akan melakukan strategi
memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonusnya. Demik:ian pula CEO yang kinerjanya
kurang baik akan cenderung memaksimalkan laba untuk mencegah atau membatalkan
pemecatannya.
e. Initial Public Offering (IPO)
Pada saat perusahaan go public, infonnasi keuangan yang ada dalam prospektus merupakan
sumber informasi yang penting.Informasi ini dapat dipakai sebagai sinyal kepada calon investor
tentang nilai perusahaan. Untuk mempengaruhi keputusan calon investor maka manajer
berusaha menaik:kan laba yang dilaporkan.
t: Pentingnya Memberikan Informasi Kepada Investor
Infonnasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan
laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang
baik.
1.3. Teknik Manajemen Laba
Teknik: manajemen laba menurut Setiawati dan Na'im (2000) dalam Rahmawati (2006)
dapat dilakukan dengan tiga teknik: yaitu:
a.
Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntami
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi
antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap
atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi dan lain-lain.
b.
Mengubah metode akuntami
Perubahan metode akunatansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: merubah
metode depresiasi aktiva tetap dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis
lurus.
MANAlEMEN LABA:MENGAPA BANYAK MENGUNDANG KONTROVERSI?
Jiltyllnto
27
c.
Menggeser periode biaya atau pendapatan.
Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain : mempercepat/menunda
pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya,
mempercepat/menunda promosi sampai periode berikutnya, mempercepat/menunda pengiriman
produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah idak terpakai.
2.4. Pola Manajemen Laba
Pola manajemen laba menurut Scott (2000) Rahmawati (2006) dapat dilakukan dengan
cara:
a. Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan
kerugian dalamjumlah besar.Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba dimasa datang.
b.
Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba
pada periode mendatang diperkirakan turun drastis maka dapat diatasi dengan mengambillaba
periode sebelumnya.
c.
Income Ma:rimization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk
melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar.Pola ini dilakukan oleh
perusahaan yang melakukan pelanggaran petjanjian hutang.
d
Income Smoothing
Perataan laba (income smoothing) merupakan suatu bentuk manajemen laba yang
mencerminkan hasil ekonomi, tidak sebagaimana keadaannya, tetapi merupakan penampilan
yang diinginkan manajemen. Income smoothing mengandalkan tidak pada pemalsuan atau
penyimpangan, tetapi pada peluang luas yang terdapat dalam alternatif prinsip akuntansi yang
berterima unwm (GAAP) dan penjabarannya. Sasaran utamanya adalah untuk melunakkan
variabilitas laba setiap tahunnya, dengan mengalihkan pendapatan dari tahun yang baik ke
tahun yang buruk. Dalam hal ini pendapatan masa yang akan datang dapat dialihkan ke tahun
sekarang atau sebaliknya, demikian pula halnya dengan biaya dapat dimodiflkasi dengan
mengalihkan beban atau kerugian dari periode ke periode. Contohnya adalah pengurangan
biaya diskresi (discretionary cost; seperti biaya iklan dan litbang) pada tahun berjalan untuk
memperbaiki laba periode betjalan, kebijakan ini disebut real smoothing.
Real smoothing mengacu pada penetapan waktu berlangsungnya transaksi-transaksi
aktual seperti pengeluaran biaya iklan dan litbang.Artificial smoothing dapat dilakukan melalui
prosedur-prosedur akuntansi dengan pengalokasian biaya atau pendapatan dari satu periode
ke periode lain. Dalam hal ini, dapat dilakukan perubahanprosedur akuntansi tertentu (misalnya;
metode depresiasi tertentu) untuk mencapai laba yang relatif stabil. Sedangkan classificatory
smoothing merupakan pengklasifikasian elemen-elemen laporan laba rugi untuk mengurangi
variasi laba dari periode ke periode melalui extraordinary item
Income Smoothing Vs Agency theory
Salah satu penyebab yang dapat mendorong manajer untuk melakukan income smoothing
melalui tiga dimensi yaitu real, artificial dan classificatory smoothing adalah adanya perhatian
investor yang selama ini cenderung terpusat pada informasi laba tanpa memperhatikan proses
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 - 34
yang digunakan untuk mencapai tingkat laba tersebut. Oleh karen.a itu, man.ajer memanfaatkan h.al
tersebut untuk melakukan income smoothing yang bertujuan untuk menstabilkan laba sesuai
kepentingannya.Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian investor, dengan harapan investor dapat
memiliki motivasi yang tinggi untuk berinvestasi dalam perusahaan yang memiliki laba relatif stabil
tersebut. Penyebab lain man.ajemen melakukan perataan laba dengan cara memilih metode akuntansi
adalah untuk memaksimumkan kepuasan dan kemakmurannya.Pernyataan inisangat terkait dengan
agency theory (teori agensi).Teori keagenan dapat dipandang sebagai suatu versi dari game theory,
yang membuat suatu model kontraktual antara dua atau lebih orang (pihak), dimana salah satu
pihak disebut agent dan pihak yang lain disebut principal. Principal mendelegasikan
pertanggungjawaban atas decision making kqJada agent, h.al ini dapat pula dikatakan bahwa principal
memberikan suatu amanah kepada agent untuk melaksanakan tugas tertentu sesu.ai dengan kontrak
kerja yang telah disepakati. Wewenang dan tanggungjawab agent maupun principal diatur dalam
kontrak kerja atas persetujuan bersama.
Perusahaan mempunyai banyak kontrak, misalnya kontrak kerja antara perusahaan dengan
para man.ajernya dan kontrak pinjaman antara perusahaan dengan krediturnya. Kedua jenis kontrak
tersebut seringkali dibuat berdasarkan angka laba bersih. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori
agensi mempunyai implikasi terhadap akuntansi. Kontrak kerja yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah kontrak kerja antara pemilikmodal dengan manajer perusahaan. Pemilikmodal atau investor
disebut sebagai principal, sedangkan manajer disebut sebagai agent. Dimana antara agent dan
principal ingin memaksimumkan utility masing-masing dengan informasi yang dimiliki. Tetapi di
satu sisi, agent memiliki informasi yang lebih banyak (full information) dibanding dengan principal
di sisi lain, sehingga menimbulkan adanya asimetri information.Informasi yang lebih banyak dimiliki
oleh manajer dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan keinginan dan
kepentinganuntuk memaksimumkan utilitynya.Sedangkan bagi pemilik modal dalam hal ini investor
akan sulit untuk mengontrol secara efektiftindakan yang dilakukan oleh man.ajemen karena hanya
memiliki sedikit informasi yang ada.Oleh karena itu, terkadang kebijakan-kebijakan tertentu yang
dilakukan oleh manajemen perusahaan, misalnya; tindakan untuk melakukan perataan laba melalui
real, artificial dan classificatory smoothing, tanpa sepengetahuan pihak pemilikmodal atau investor.
Namun dapat dipastikan bahwa pada akhirnya akan menimbulkan suatu gejolak, ketika investor
memperhatikan proses tirciptanya laba akibat tindakan perataan yang dilakuk.an manajemen, yang
pada gilirannya kebijakan tersebut memiliki pengaruh terhadap motivasi investor untuk melakukan
investasi.
Dalam income smoothing diasumsikan investor adalah orang yang menolak risiko. Salah
satu ukuran risiko bagi investor yang akan dihindari adalah adanya laba perusahaan yang tidak
stabil dari periode ke periode. Laba yang tidak stabil akan memberikan dividen yang sulit untuk
diprediksi dan bahkan tidak ada kepastian tentang dividen yang akan diterima investor dimasa
datang. Sebaliknya, investor lebih cenderung terhadap laba perusahaan yang relatif stabil sepanjang
periode, sehingga mempengaruhi motivasi investor untuk berinvestasi. Hal ini didasarkan pula
bahwa pola laba periodik yang stabil dapat mendukung tingkat dividen yang lebih tinggi diperoleh
investor dibandingkan pola laba periodik yang fluktuatif juga menyatakan bahwa motivasi yang
maulorong dilakukannya income smoothing adalah untuk memperbaiki hubungan antara perusahaan
dengan pihak luar perusahaan seperti; investor, kreditur dan pemerintah.
MANAlEMEN LABA:MENGAPA BANYAK MENGUNDANG KONTROVERSI?
Jiltyllnto
29
3. Pembahasan
3.1. Manajemen Laba dan Asimetris lnformasi
Agency theory mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara Manajer sebagai agen
dan pemilik sebagai prinsipal.Asimetri informasi munculketika manajer lebih mengetahui informasi
internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan
stakeholder lainnya. Dikaitkan dengan peningkatan nilai perusahaan, ketika terdapat asimetri
informasi manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna
memaksimisasi ni1ai saham perusahaan.Sinyal yang mberikan dapat dilakukanmelalui pengungkapan
(disclosure) informasi akuntansi.
Asimetri informasi adalah suatu keadaan d.imana manajer memiliki akses informasi atas
prospekperusahaan yang tidak dimilikioleh pihak luar perusahaan.Agency theory mengimplikasikan
adanya asimetri informasi antara manajer (agent) dengan pemilik. (principal).Penelitian Richardson
(1998) dalam Julia Halim et all, 2005 menunjukkan adanya hubungan antara asimetri informasi
denganmanajemen laba.Ketika asimetri informasi tinggi, stakeholder tidakmemiliki sumber daya
yang cukup, insentif, atau akses atas informasi yang relevan untuk memonitor tindakan manajer,
dimana hal ini memberikan kesempatan atas praktek manajemen laba. Adanya asimetri informasi
akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya terutama jika informasi
tersebut berkaitan dengan pengukuran kinetja manajer.
Laporan keuangan sebagai sarana informasi yang ditujukan untuk mengurangi asimetris
informasi antara manajemen danpemilik perusahaan memiliki keJemahan tertentu. Walaupun proses
penyusunan laporan keuangan telah diatur oleh suatu estindar yang ditetapkan oleh profesi akuntan
sendiri namun perlu disadari bahwa laporan keuangan mengandung banyak asumsi, penilaian serta
pilihan metode penghitungan yang dapat digunakan oleh pembuatnya. Adanya pilihan kebijakan
akuntansi dalam standar yang dapat digunakan membuat manajemen memiliki cukup keleluasaan
untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut. Pilihan metode akuntansi yang secara sengaja
dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba.
Standar akuntansi sendiri mengantisipasi dampak informasi asimetri dengan mengharuskan
manajemen melakukan pengungkapan penuh atas kondisi keuangan perusahaan dalam laporan
keuangan. Prinsip pengungkapan penuh inidiharapkan dapat membantu pe:ngguna laporan keuangan
untuk menilai kondisi perusahaan sebelum membuat suatu keputusan ekonomi. Asimetri informasi
memungkinkan manajemen sebagai pembuat laporan keuangan melakukan manajemen laba demi
kepentingan tertentu. Dilain pihak adanya prinsi pengungkapan penuh dapat digunakan untuk
mengurangi asimetris informasi yang pada akhirnya juga dapat mengurangi kemungkinan
dilakukannya manajemen laba oleh pihak manajemen.
3.2. Manajemen Laba dan Tingkat Pengungkapan
Asimetri informasi yang terjadi antara manajer dengan pemegang saham sebagai pengguna
laporan keuangan menyebabkan pemegang saham tidak dapat mengamati seluruh kinerja dan
prospek perusahaan secara sempurna. Dalam situasi dimana pemegang saham memiliki informasi
yang lebih sedikit dari manajer, manajer dapat memanfaatkan fleksibilitas yang dimilikinya untuk
melakukan manajemen laba. Tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan akan membantu
pemegangsaham memahami isi dan angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian
Julia Halim dkk (2005) menyimpulkan bahwa manajemen laba berpengaruh positif signiflkan
pada tingkat pengungkapan laporan keuangan. Dengan demikian, peningkatan pengungk:apan
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 - 34
menyebabkan fleksibilitas manajer untuk: melakukan manajemen laba akan berkurang karena
berkurangnya asimetri informasi antara manajemen dengan pemegang saham dan pengguna laporan
keuangan lainnya.
Penelitian mengenai hubungan manajemen laba dan tingkat pengungkapan telah dilakukan
oleh Lobo and Zhou (2001) dalam Julia Halim dkk (2005) yang meneliti 1444 perusahaan dalam 5
tahun penelitian dan menemukan bukti kuat bahwa kualitas pengungkapan berkorelasi negatif
dengan manajemen laba.Penelitian yang sama dilakukan oleh Sylvia Veronica dan Yanivi Bachtiar
(2003) yang meneliti laporan keuangan tahun 1999 dan menemukan hasil yang sama dimana
manajemen laba dan tingkat pengungkapan memiliki hubungan yang negatif. Dalam laporan
keuangan, manajemen akan melakukan pengungkapan yang seperlunya, hal ini dilakukan agar
manajemen dapat mempraktekkan manajemen laba untuk mencapai tujuan tertentu. Jika manajemen
melakukan pengungkapan informasi keuangan perusahaan seminimum mungkin maka kondisi
asimetri informasi akan terjadi sehingga memberikan keleluasaan bagi manajer untuk: melakukan
manajemen laba.
3.3. Manajemen Laba dan IPO
Initial public offerings (IPO) merupakan penawaran saham suatu perusahaan private yang
pertama kali kepada publik. Penawaran ini bertujuan memperoleh tambahan dana untuk membiayai
dan mengembangkan usahanya.Pada saat melakukan penawaran perusahaan harus menyediakan
prospektus yang berisi informasi keuangan dan non keuangan dimana informasi keuangan terdiri
dari neraca (balance sheet), laporan laba rugi (income statement), laporan arus kas (cash flow
statement), dan penjelasan atas laporan keuangan (notes offmancial statement).Sedangkan informasi
non keuangan berisi informasi mengenai underwriter, auditor independen, konsultan hukum, nilai
penawaran saham, prosentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan, dan informasi lain yang
mendukung. Informasi dalam prospektus tersebut dibutuhkan investor dalam proses pembuatan
keputusan di bursa. Informasi dalam prospektus tersebut akan memberikan gambara n mengenai
kondisi, prospek ekonomi, rencana investasi, serta ramalan laba dan dividen yang akan dijadikan
dasar dalam pembuatan keputusan rasional mengenai resiko dan nilai saham yang ditawarkan
perusahaan.
Selama ini jarang ada media yang meliput kondisi suatu perusahaan selama tiga tahun
terakhir sebelum perusahaan tersebut go public sehingga investor cenderung menyandarkan diri
kepada prospektus untuk mengetahui informasi dan menilai perusahaan yang go public tersebut.
Sedikitnya informasi yang tersedia menyebabkan investor cenderung menyandarkan diri pada
informasi yang dicantumkan dalam prospektus. Sedikitnya informasi yang tersedia mendorong dan
memotivasi manajer melaporkan informasi yang menguntungkan dengan mempercantik laporan
keuangannya melalui permainan akrual untuk: mengatur tingkat laba yang dilaporkan. Adanya
hubungan antara informasi akuntansi dan harga ekuitas pada saat penawaran mengarahkan pada
anggapan bahwa perusahaan memiliki dorongan untuk melakukan manipulasi kinerja yang dapat
meningkatkan penerimaan melalui pengaturan tingkat laba yang dilaporkan (earnings management).
Dilihat dari sudut pandang akuntansi ada dua keterbatasan investor dalam
menginterprestasikan laporan keuangan, pertama kriteria penyajian elemen laporan keuangan yang
rentan terhadap kebijakan manajer. Sehingga manajer memiliki peluang untuk menetapkan rekayasa
kebijakan, sebab akuntansi memang memberikan peluang bagi manajer untuk mencatat fakta tertentu
dengan cara tertentu dan melibatkan subjektifitas dalam penyusun estimasi. Kedua, tidak adanya
MANAlEMEN LABA:MENGAPA BANYAK MENGUNDANG KONTROVERSI?
Jiltyllnto
31
observasi yang sempurna, mengingat tidak semua kebijakan maoajer dapat diobservasi oleh investor.
K.edua keterbatasan investor itulah yang memberi peluang bagi manajer untuk lebih bersikap oportunis
dengan mengelola laba demi keuntungannya sendiri (moral hazard). Sikap oportunis tersebut
sebenamya merupakan sikap curang (fraud) manajer yang diimplikasikan dalam laporan keuangan
pada saat penawaran perdana, walaupun pasca penawaran maoajer tidak mampu lagi melanjutkan
sikap curangnya yang tercermin dari penurunan kinerja perusahaannya. Sehingga meski dalam
jangka pendek perusahaan mampu mempertahankan kinerja yang dilaporkan dengan lebih tinggi
tersebut (overperformance), dalamjangka panjang penurunan kinerja akan tetap terjadi.
Menurut Healy dan Palepu (1993), ada tiga kondisi yang menyebabkan komunikasi melalui
laporan keuangan tidak sempurna dan tidak transparan yaitu: (1) dibandingkan dengan investor,
maoajer memiliki informasi lebih banyak tentang strategi dan operasi bisnis yang dikelolanya, (2)
kepentingan manajer tidak selalu selaras dengan kepentingan investor, dan (3) ketidaksempurnaan
dari aturan akuntansi dan audit. Leuz et al. (2003) melakukan studi komparatif internasional tentang
maoajemen laba dan proteksi investor dengan sampel31 negara, yang meliputi periode pengamatan
dari tahun 1990 sampai tahun 1999. Dalam penelitian ini Indonesia termasuk sebagai sampel.
Tujuan penelitiannya adalah untuk memberikan bukti empirik adanya perbedaan manajemen laba
di berbagai negara, dan perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan proteksi terhadap
investor. Bedasarkan pada nilai rata-rata skor maoajemen laba, Indonesia berada pada urutan ke
15 dari 31 negara.Artinya, Indonesia berada pada tingkat menengah, tingkat terendah maoajemen
laba adalah Amerika Serikat. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang ikut terpilih sebagai
sampel yaitu: Malaysia, Filipina, dan Thailand, maka Indonesia adalah yang paling besar tingkat
maoajemen labanya.
3.4. Manajemen Laba dan Dewan Komisaris
Dewan Komisaris diyakini memiliki peran penting dalam pengelolaan perusahaan khususnya
dalam memonitor manajemen puncak (Fama dan Jansen, 1983 dalam Linda Kusumaning, 2004).
Beasley (1996) meneliti hubungan antara proporsi dewan komisaris dan kecurangan (fraud) laporan
keuangan. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan kecurangan
mempunyai persentase dewan komisaris ekstemal yang signiflkan lebih rendah daripada perusahaan
yang tidak melakukan kecurangan. Sejalan dengan pendapat tersebut Park and Shin, 2004 dalam
Hafiza dan Susela Devi, 2006 menyatakan theorize that the board of directors is the most
important internal control mechanisms that are responsible to monitor the actions of top
management. The board of directors have the main duty to ensure that management is behaving
in the best interest of shareholders by monitoring management activity.Hasil penelitian Rashidah
& Fairuzanah, 2006 menyimpulkan bahwa manajemen laba berhubungan positif dengan ukuran
dewan komisaris.
Adanya kewajiban dibentuknya komite audit pada perusahaan-perusahaan publik oleh Bursa
Efek Jakarta menunjukkan bahwa BEJ ingin meningkatkan pengawasan terhadap pengelolaan
perusahaan sehingga dapat mengurangi aktivitas manajemen laba melalui akrual discretioner.
4. Kesimpulan
Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan
keuangan eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya
sendiri atau perusahaannya sendiri. Peluang untuk mendistorsi laba tersebut timbul karena metode
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 • 34
akuntansi memberikan peluang bagi manajemen untuk mencatat suatu fakta tertentu dengan cara
yang berbeda dan peluang bagi manajemen untuk melibatkan subyektifitas dalam menentukan
estimasi. Praktek manajemen laba cukup banyak mengundang kontroversi. Disatu sisi manajemen
laba merupakan tindakan yang tidak menyalahi peraturan yang ada dan berlaku unmm tetapi disisi
lain manajemen laba dipandang sebagai bentuk pemanipulasian akuntansi. Dengan adanya praktek
manajemen laba reliabilitas dari laba akan tereduk:si
Watts and Zimmerman (1986) dalam Julia Halim dkk (2005) adalah: (a) The Bonus Plan
Hypothesis (b) The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis) (c) The Political
Cost Hypothesis (Size Hypothesis). Scott (2000:302) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya
manajemen laba:(a) Bonus Pwposes (b) Political Motivations (c) Taxation Motivations (d) Pergantian
CEO (e) Initial Public Offering (IPO) (f) Pentingnya Memberikan Informasi Kepada Investor.
Teknik manajemen laba menurut Setiawati dan Na'im (2000) dalam Rahmawati (2006)
dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu: (a) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi
akuntansi (b) Mengubah metode akuntansi (c) Menggeser periode biaya atau pendapatan.
Sedangkan pola manajemen laba menwut Scott (2000) Rahmawati (2006) dapat dilakukan dengan
cara: (a) Taking a Bath (b) Income Minimization (c) Income Maximization (d) Income Smoothing.
Daftar Pustaka
BeasleyM. 1996. An Empirical Analysis of the Relation Between The Board of Director
Compotition and Financial Statement Fraud. Contemporary Accounting Research 15: 124.
Hafiza Aishah Hashim & Susela Devi. 2006. The Impact of Board Characteristics on Earnings
Quality:Evidence from Malaysian Listed Companies. Proceedeng J8lh Asian Pacific
Conference.
Healy P.M & K.G Palepu. 1993. The Effect of Firms Financial Disclosure Strategies on Stock
Prices. Accounting Horizons. Volume 7 No.1Maret 1993: 1-11.
Julia Halim, Carmel Meiden & Rudolf Lumban Tobing.2005. Pengaruh Manajemen /aha Pada
Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang
Termasuk Dalam Indeks LQ-45. SNA VIll Solo, 15 - 16 September 2005.
Katherine Schipper and Linda Vmcent. Earnings Quality. Accounting Horizons Supplement 2003:
pp97-110.
Leuz CNanda & P.O. Wysocki. 2003. Earnings Management and Investor Protection: an
International Comparation. Journal of Financial Economics. Volume 69: 505-527.
Linda Kusumaning Wedari. 2004. Ana/isis Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris dan
Keberadaan Komite Audit Terhadap Aktivitas Manajemen Laba. Simposium Nasional
Akuntansi.
MANAlEMEN LABA:MENGAPA BANYAK MENGUNDANG KONTROVERSI?
Jiltyllnto
33
Mursalim. 2005. Income Smoothing dan Motivasi Investor: Studi Empiris Pada Investor di
BEJ. SNA VIII Solot 15 -16 September 2005
Paul M.Healy and James M. Wahlen. A Review of the Earning Management Literature and Its
Implications for Standard Setting. Commentaryt Harvard University and University
Bloomington at Indiana. Accounting Horizons voll3 no. 4 Desember 1999 pp 365-383
Rahmawati, Yacob Suparno, Nurul Qomariyah. 2006. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap
Praktik manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan Publik Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Jakarta. SNA IX Padang.
Rashidah Abdul Rahman and Fairuzana Haneem Mohamed Ali. 2006. Board, Audit Committee,
Culture and Earnings Management: Malaysian Evidence. Manajerial Auditing Journalt
Volume21 Issue7:783-804 tahun2006.
Scottt WilliamR.2000. FinancialAccountingTheory. USA: Prentice Hall.
Sylvia Veronica dan Yanivi S. Bachtiar (2003)t Hubungan Antara Manajemen Laba Dengan
1ingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. SNA VIII Solot 15- 16 September 2005.
Fokus Ekonomi
Vol.3 No.1Juni2008 :24 - 34